Jalan dengan tenang: neng, ning, nung nang.

Mengapa mesti jalan dengan tenang, apakah karena Eyang Ibnu Sina mengatakan bahwa kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan?. Dalam teks ceramah da’i sering pula disebutkan jika terburu-buru adalah sifat setan. Bahkan urusan sholat, dikatakan kurang sempurna jika terburu-buru. Bagaimana sebenarnya dampak ketenangan dalam berbagai hal? Barangkali itu masih sepersekian dari keseluruham tanya yang mencecar kita mengenai tenang.
Jawa, sebagai peradaban mempunyai sebuah konsep mengenai ketenangan yakni neng, ning, nung, nang. Neng artinya meneng, berdiam. Ning artinya hening. Nung artinya merenung. Dan nang artinya tenang. Apakah neng, ning, nung, nang adalah bentuk dari tahap-tahap dalam menempuh ketenangan, ataukah neng, ning, nung, nang adalah serangkaian konsep yang apabila kita menempuh salah satunya maka nantinya kita akan menempuh semuanya. Karena kesemuanya itu salaing terkait.
Tenang itu menjadi perkara penting, karena dalam menyikapi sesuatu dengan tidak tenang maka dampaknya akan buruk. Dalam islam, saat kita marah kita disarankan untuk duduk, jika sedang duduk disarankan untuk rebah agar ketika dalam mengambil suatu keputusan dapat diputuskan dengan tenang.
Kembali, perihal neng, ning, nung nang ini dapat di kembangkan lebih luas, lebih dalam, lebih detail lagi bagaimana akhirnya dapat menemukan korelasi yang bijak.
Karena sungguh, ketenangan adalah sebuah kebaikan. Tiada yang dapat diambil kebaikan dari sebuah ketegangan, kecuali tegang diatas ranjang.