Be your self !
Jargon lama yang perlu penelaahan ulang, mengurai makna, menarik kembali asal usul kata, mempertanyaan urgenitas kenapa harus menjadi diri sendiri, lantas apa korelasi untuk kedepannya. Simbah, berulang mengingatkan agar terus mencari jati diri. Karena perjuangan cacing tidak sam dengan perjuangan ular. Cara hidup emprit tidak sama dengan cara hidup elang. Karena ketidaktahuan kita terhadap diri sendiri akan berakibat pada tindakan yang salah sasaran dikemudian hari. Inilah perlunya membangun kesadaran atas diri sendiri, mencari, mengidentifikasi, menemukan, merancang tindakan yang akan dilakukan. Barangkali hal ini akan membutuhkan waktu yang panjang, tapi sebagai mana pejalan, iya tidak akan pernah sampai pada tujuan jika ia tidak memulai. Seribu langkah, dimulai dengan satu langkah.
Proses identifikasi saat ini tidak pada perumpaan hewan-hewan, ada tiga ranah yang sedang menganga lebar dengan berbagai konsekuensi didalamnya, dimensi nilai, pasar dan istana/kekuasaan. Hendak kemanakah pilihan kita berlabuh, seberapa kuat kita akan menghadapi tantangan yang akan terjadi. Tempaan luar biasa sudah siap menanti. Disuatu waktu Simbah dawuh, bahwa Maiyah ialah jalan kenabian, jalan yang dipilih untuk mengenggam erat nilai serta menyebarluaskannya. Seberapa siap sebenarnya kita hendak berlabuh secara kaffah di ranah nilai ini. Karena bagaimanapun dalam menjalani hidup kita tidak bisa terlepas dari “wilayah” pasar. Sehari-hari kita tidak bisa lepas dari transaksi jual-beli baik berupa barang maupun jasa. Begitupun di “wilayah” istana/kekuasaan, dimana terbentuknya aturan-aturan yang dibuat oleh mereka yang sedang berkuasa sedikit banyak akan berimbas pula pada kehidupan sehari-hari.
Berulang kali kita diperlihatkan bagaimana agama dijadikan kedok baik dalam meraih suara untuk dapat berkuasa, ataupun agama dijadikan alat untuk meraih keuntungan secara materi. wajah agama ditarik ngalor-ngidul hingga menjauhi esensi dalam beragama. Dalil-dalil diobral, dicari seolah berkorelasi dengan nafsu manusia yang tak pernah usai. Hal itu adalah bagian dari ketidakmampuan kita dalam mendudukan perkara sesuai empan papannya. Oleh karena itu diperlukan kejelian dalam melihat, kesimbangan dalam berfikir, serta kejernihan hati dalam memandang permasalahan yang terjadi. Hal ini seperti yang ditulis oleh Toto Rahardjo bahwa apakah dengan spirit di situ lalu hal-hal yang sifatnya wadag dan keseharian (urusan dengan hidup, dengan ekonomi, material, dll) harus kita singkirkan? Tidak. Sebab itu sudah merupakan urusan sehari-hari kita. Maka, kembali ke spirit adalah bagaimana kita mencoba terus-menerus melakukan sesuatu untuk memperkuat kehidupan kita ke depan, supaya kita memiliki independensi dalam hidup kita. Di situlah letak spirit yang saya maksud. Dengan spirit itulah kita semakin percaya diri. Kita semakin mandiri. Dengan spirit itu kita semakin tidak terombang-ambing oleh situasi yang bisa mengombang-ambingkan kita.
Bermaiyah ialah bersungguh menggenggam serta menerapakan nilai-nilai dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan tidak akan menelantarkan kita, Dia telah menjamin akan hal itu. Tapi sebagaimana lumrahnya terjadi, bahwa selalu ada kegelisahan yang menghantui, kekhawatiran yang menyelimuti, yang akan menggerogoti keyakinan kita. Maka ini bukan hanya tentang bagaimana kita menjadi diri sendiri yang dikehendaki Tuhan tapi juga kelanjutan konsekuensi yang kan dihadapi. Lantas bagaimana cara memulai, menjalani, beristiqomah dalam “wilayah nilai” ini?. Barangkali pertanyaan itu yang akan mengantarkan kita pada kegiatan Sinau bareng di tanggal 24 Agustus 2019.
Oleh: Nurul
Leave a Reply