Semenjak milenial menyapa kita bukan hanya terlempar kedunia fana, namun juga seketika tersesat di dunia maya. Belantara yang didalamnya bercampur aduk bebagai informasi. Penyajian kotoran dan perkara baik menjadi abu-abu. Jika kita ambil jargon lama yang menyatakan bahwa hidup adalah perjalan, maka upaya yang paling mungkin untuk kita lakukan adalah mencari jalan agar menyegerakan diri untuk tidak tersesat lagi dalam belantara tersebut. Lalu menemukan kompas sebagai pemandu jalan pulang.

Bukankah seperti yang sudah-sudah, kita acapkali tertipu oleh informasi, petunjuk, tuntunan, serta berbagai hal yang seolah pijar kebaikan dalam dunia maya?. Kita memilih informasi itu sebagai pedoman dalam menentukan arah pulang dan dengan amat yakin mengklaim bahwa arah yang kita pilih adalah jalan paling benar menuju pulang, hingga menganggap sesat orang lain yang beda arah dalam menentukan jalan pulang. Pernahkah kita menemukan parameter yang valid tentang penentuan pilihan arah pulang ini?. Bagaimana sikap kita terhadap pilihan orang lain yang tidak sama? Apakah memaksakan jalan kita sebagai jalan mutlak menuju pulang, atau membiarkan bagitu saja dia memilih jalannya?. Bukankah ada kemungkinan kumungkinan yang hadir melihat hal itu. Bisa jadi kita yang sedang sesat, kalau pun benar orang lain yang sesat maka pembiaran adalah sikap yang tak arif. Lalu bagaimana seharusnya?.

Jika kita putar lagi memory, melakukan kontemplasi pada apa yang telah kita lakukan, kita berulang kali terjebak pada pemilihan informasi dan yang mengenaskan terus  kita amat terlambat menyadari bahwa kita menjadi gembalaan dari arus informasi yang tidak pernah jelas penggembalanya. Seakan ada sistem penyerapan informasi yang tidak sesuai pada diri kita. Ada proses mencicipi yang kurang peka, mengunyah yang kurang teliti, kita telan saja segala yang masuk. Lalu bermasalah pada pencernaan data, dan berlanjut pada output yang tidak punya daya fikir jangka panjang yang arif.

Sebagai orang yang tinggal di Jember, kita seolah meyakini bahwa hanya lewat jalur Lumajang – Dampit saja untuk menuju Malang, dan menjadi sesat jika melalui jalur Lumajang – Probolinggo – Pasuruan – Malang. Dan menjadi sesat kuadrat jika melalui jalur Banyuwangi – Situbondo – Probolinggo – Pasuruan – Malang. Bahkan kita rela bertengkar terhadap siapapun yang memilih jalur selain Lumajang – Dampit untuk menuju Malang. Melihat amsal itu, konyol memang. Namun sayangnya itu yang terjadi pada kita akhir-akhir ini. Merelakan bertengkar demi proses pemilihan abdi negara yang disajikan dalam media. Tapi mari tidak ikut terseret pada keriuh-ruwetan mengenai itu. Mari belajar dari proses memilih, membawanya pada ranah yang lebih luas dan skala yang lebih besar.

Titik tolak melingkar kali ini ialah tentang bagimana memilah informasi-informasi yang semakin deras mengalir di berbagai dimensi kehidupan. Lalu menentukan proses memilih terhadap informasi yang diyakini benar. Tidak hanya sampai disitu, berlanjut juga bagaimana bersikap pada pilihan, baik pilihan sendiri dan pilihan orang lain. Melihat sebegitu kompleksnya urusan memilah-memilih maka akan berat sepertinya jika hanya mengandalkan analisis manusia yang penuh keterbatasan, dan mudah sekali tertipu. Secara sederhana, orang-orang terdahulu atau mungkin bisa jadi sampai saat ini setiap hendak melakukan sesuatu selalu mengawali dengan bismillah. Dari perkara yang sederhana hingga rumit. Dari perkara yang ruang lingkupnya kecil hingga yang luas. Semuanya diawali dengan bismillah.

Pang-kupas-an bismillah ini menjadikan kita tidak tercerai dari Allah dalam proses memilah, memilih, dan sikap selepas memilih.  “Bi” pada bismillah bukan hanya berarti “dengan” (bersama) namun itu membangun kesadaran bahwa tanpa kekausaan Allah kita tidak akan pernah berhasil, dan ini juga kesadaran bahwa manusia itu lemah dan penuh keterbatasan yang selalu butuh kepada Allah. Maka setiap tingkah laku yang kita jalani -harusnya- didasari dengan penyifatan kesembilan puluh sembilah asma Allah. Hal ini (memilah-memilih)  tak lain sesungguhnya  implementasi dari ihdinashirotolmustakim.

Maka kunci dari kata bismillahi ialah pada alif samar dan titik ba. Hadir dalam penghayatan serta kokoh dalam mengimani, semoga saja. Amien.