Desa Sidomukti berjarak sekitar 40 menit dari pusat kota Jember. Jalanan desa yang naik turun dan berbelok-belok harus dilalui para sedulur Maiyah untuk bisa berkumpul dan berdiskusi. Sesuai dengan tema, seolah seperti itulah pengembaraan pengetahuan dan kesadaran jamaah Maiyah, dari kota kembali ke desa. Naluri dasar manusia adalah untuk menemukan ketenangan dan kedamaian, ‘toto tentrem karto raharjo’ dan harus ‘warobbul ghofur’, untuk itulah desa Sidomukti sengaja dipilih dalam acara melingkar kali ini, untuk mengambil jarak dari kota yang penuh “sesak”.
Pada pukul 21.00, acara dibuka dengan tawassul, kemudian dilanjutkan pembacaan wirid akhir zaman oleh Mas Ferly. Udara sejuk perbukitan desa Sidomukti membimbing jamaah untuk bersholawat. “Arek Etan Pasar” memimpin sholawat tersebut dengan rampak suara ‘terbang’.


Sebagai gentong ilmu di Jembaring Manah, Gus Wildan memaparkan pemikirannya tentang tema ‘deso mowo coro’. Beliau mengingatkan bahwa masa depan negara ini ada di masa lalunya. Kearifan budaya desa adalah pondasi yang harus tetap kokoh meskipun atap negara sudah ambrol. Segaduh apapun pemilu yang diselenggarakan negara tempo hari, orang desa tetap harus tersenyum ramah pergi ke sawah dan gagah melempar sauh di lautan. Segembelengan apapun para politisi memainkan negeri ini, orang desa tetap harus guyub ketika kerja bakti.

Malam larut bersama serbuk kopi yang mengendap di dasar gelas. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai penggali kubur, Cak Edi mengajak kawan-kawan Maiyah untuk lebih lebar dan mendalam dalam membedah tema. Jika kita boleh mengatakan raga kita adalah negara, maka juga bisa dikatakan bahwa ruh kita adalah desa kita. Raga bisa hancur lebur, tapi ruh akan kembali dan utuh. Innalillahi wainnailaihi roji’un.

Gayung bersambut, Gus Wildan menjelaskan perbedaan antar ‘Nas’ dan ‘Insan’. Nas adalah bungkus terluar dari manusia, sedangkan insan adalah komponen lembut di dalam nas. Manusia yang sudah tersentuh rohmat Allah memiliki tiga ciri-ciri; mahabbah (cinta yang meluas), latif (lembut), maghfiroh (pemaaf). Dan di penghujung diskusi, laki-laki yang sebentar lagi akan menikah itu mengatakan bahwa sejatinya desa manusia adalah surga.
Rahayu.
Oleh: Saka Wesly

Leave a Reply