Melanjutkan apa yang sudah diperdalam, diperluas dan diperinci terkait hadiah Simbah untuk anak-cucunya selama tiga bulan. Dibulan lalu kiya telah mulai melakukan analisa terkait identitas dan personalitas. Seperti yang telah dikupas sebelumnya maiyah ialah jalan kenabian dimana dalam hal ini maka ceruk yang dipilih ialah sebagai manusia nilai. Dimana dalam memaknai manusia nilai, bukan berarti mereka yang menolak diri dari manusia pasar dan manusia kekuasaan.

Manusia nilai ialah mereka yang berupaya menerapkan nilai-nilai dalam kehidap sehari-sehari diberbagai skala dan ranah. Secara singkat kita dapat menyebutnya sebagai akhlak al karimah. Dimana kita sudah memiliki sosok nyata yang dihadirkan Tuhan di bumi ini sebagai uswatul hasanah, yakni Kanjeng Nabi Muhammad, beliaulah kaca benggala dalam memaknai manusia nilai. 

Setelah kita “selesai” mengarungi analisa terhadap identitas dan personalitas maka selanjutkan ialah bagaimana kita dapat mempersiapkan kuda-kuda untuk menghadapi konsekuensi yang pasti akan menemui kita, kegetiran yang hadir dalam laku, hingga kesedihan erat memeluk. Maka kita harus kembali menguatkan keyakinan, keimanan, dan tidak melulu memberhalakan rasionalitas. Jika kita menarik garis awal hadirnya keraguan, kekhawatiran dan kegelisahan serta kesedihan dikarenakan kurangnya persiapan baik karena minimnya pengetahuan, jangkauan berfikir yang jauh kedepan, dan juga karena tipis keyakinan bahwa Tuhan selalu membersamai kita dimanapun dan kapanpun. 

Oleh karena itu, langkah sinau kita bulan ini mengupas kembali hadiah dari Simbah, bagaimana upaya yang semestinya dilakukan agar bertambah yakin bahwa Tuhan selalu membersamai. Apa penyebab kita memiliki perasaan gelisah jika dalam “laku nilai” nantinya menemui masalah hingga akhirnya kita jatuh dalam kesedihan, bukankah Tuhan amat sangat dekat, lebih dekat dari urat leher, namun seolah kesadaran itu rapuh begitu saja digerus hambatan yang datang. Lantas dimana kita selama ini meletakkan “iman” pada Tuhan.

Problem semacam itu perlu adanya penggalian lebih mendalam, membedah satu persatu variabel terkait gejolak yang akan dialami. Sebagaimana yang terjadi sendiri oleh Kanjeng Nabi tatkala menyampaikan Firman Tuhan kepada masyarakat yang saat itu masih dalam kejahilan. Meski sosoknya sudah hampir limas abad meninggalkan kita, namun jalan kenabiannya tetap hidup. Dan Maiyah ialah jalan kenabian. Maka sudah sepatutnya dalam mengarungi samudra nilai, kita selalu meneladani Kanjeng Nabi

Bagaimana penjlentrehannya, penjabararannya, penguraiannya dalam “perkara teknis” nantinya. Itulah barangkali salah satu alasan kita untuk menghadiri Maiyahan bulan ini. Duduk melingkar untuk ngaji bareng. Sebagai bentuk menikmati hadiah yang dihidangkan khusus oleh Simbah untuk kita sebagai anak-cucunya. Semoga setiap kita diperjalankan oleh Tuhan untuk dapat berkumpul, menyantap hadiah bersama-sama.

Karena tidak serupa dengan kematian, kesedihan -setidaknya- masih bisa dibagi. Seperti halnya kebahagiaan, yang dapat ditularkan.

La Tahzan, Aku nang mburimu !

Sampai bertemu, lofyu telungewu.