Masih terasa semangat hari Kemerdekaan, berkumpul kembali dalam gelombang cinta, kemesraan dan paseduluran Jembaring manah. Sabtu, 24 Agustus 2019 di pelataran Masjid Jalaludin Rumi, Jl. Selamet Riyadi no.168 Jember. Mengawali acara sinau bareng dengan tawasulan menyatukan energi untuk meraih rahmat Allah SWT dan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad, berlanjut dengan pembacaan prolog untuk pengantar acra sinau bareng kali ini.

Judul tema kali ini adalah Siap(a)kah Kamu? Tema kali diangkat sebagai bentuk menikmati hadiah yang diberikan Simbah kepada anak cucunya terkait dengan pemetaan manusia nilai, manusia pasar dan manusia istana / kekuasaan. Berangkat dari pemetaan tersebut akhirny kita harus lebih dulu menggali siapa diri kita, lalu melangkah pada kesiapan atas berbagai hal pasca memilih, karena memilih bukan hanya tentang menentukan sikap dari beberapa opsi yang ada, namun juga tetang membangun kesadaran akan konsekuensi yang akan terjadi selepas kita menentukan pilihan.
Beranjak pembahasan mengenai siapa kita, sudut pandang dari jamaah yang hadir beragam. “Siapa kita” menurut Mas Eko kita berasal dari yang sama terbagi fisik dan non fisik. Oleh mas eko dikaitkan dengan materi sebagai (fisik) dan gelombang (non fisik). Sebagai jembatan dari keduanya maka hadirlah cahaya, cahaya dapat terlihat namun tak dapat dileburkan. Lantas saat membahas tentang cahaya, Mas Eko mengkorelasikannya dengan Nur Muhammad, dimana seluruh semesta terbentuk dari Nur Muhammad. Lalu setelah memahami kesadaran atas assal muasalnya barulah kita bisa melangkah pada peran dan fungsi nantinya. Di sisi lain, Mas Saka mengambil lakon wayang dalam menggali siapa kita, didalam lakon Dewa Ruci, diceritakan bagaiamana kisah bima yang begitu sami’na wa’athona terhadap gurunya. Meski yang diperintahkan sebenarnya “sebuah kebohongan” namun Bima tetap melakukan. Dalam cerita singkat akhirnya bima dapat menemukan kayu gung susuhing angin, lalu di perintah kedua saat bima diharuskan menceburkan diri dalam samudra hingga bima mendapat tirta perwitasari dan dikisah selanjutnya bima bertemu dengan diriya yang sejati.

Mengenai tiga pemetaan tadi, Mas Iswandoyo menyampaikan bahwa sebenarnya ketiga hal tersebut saling terkait. Karena jika terpisah pasar akan terus menerus menjadi lahan transaksi jual beli yang penuh dengan intrik keplasuan. Sejalan dengan itu, di ranah kekuasaan jika tidak berlandaskan nilai baik itu agama, budaya, adab dst, maka kekuasaan yang berjalan akan tetap menjadi lingkaran oligarki yang menguntungkan golongan kecil saja. Mas Saka menambahkan, dalam saling keterkaitan ini perlu adanya pakem yang jelas agar yang timbul nanti bukan malah sebaliknya. Seperti agama dijadikan kedok dalam melakukan perdagangan menghadirkan dalil agar penjualannya lebih laku, begitu pun agama yang dijadikan kedok dalam meraih kursi kekuasaan. Membahas mengenai manusia nilai, Mas Wisnu mengaitkannya dengan tatatan islam, iman, ihsan. Islam ialah gerbang awal manusia dalam fase memilih, menentukan, berikrar terhadap Tuhannya. Iman ialah keyakinan penuh pada Allah bahwa segala sesuatu sudah diatur olehnya. Dan Ihsan ialah tentang kesadaran bahwa kita selalu tidak pernah luput dari pengawasannya hingga outputnya nanti dalam melakukan sesuatu kita selalu berupaya untuk menebar kebaikan.
Mendekati tengah malam, acara diselingi dengan pembacaan sholawat yang dipimpin oleh Cak Pannut. Lalu dilanjut beberapa pembahasan, mendalami kembali yang sebelumnya sudah disampaikan oleh teman-teman. Hingga akhirnya acara ditutup dengan do’a yang dibacakan secara bergantian setiap jamaah yang hadir. Sebagai upaya bersama meraih ridho dari Allah SWT.

Oleh: Nurul
Leave a Reply